Sabtu, 14 Januari 2012

kampung halaman yang merindukanku dasar lelaki ibarat kuda membutuhkan padang blingsatan terbang kesana-kemari hinggap di hiang tinggi sumur tiga warna tak pernah kering.keliliing danau entah apa yang kucari ketika remaja menyaksikan ikan warna-warni duduk dibawah pohon aur pesanggrahan yang kutunggu.ikan semah naik ke siulak terdampar dibatu licin. masih ingat membawa rakit mengayuh sampan aku lupa. pulau sangkar komnado semua roh halus dan jahat dalam genggaman. tiga ekor ayam terbang ke sekungkung hinggap di batu bersurat. ayahku bilang jangan lupa gunung selasih melihat ke koto payung semurup tinggi asal muasal jejak kaki.pegawai jenang pegawai raja tahun ketumba tanah terawang disela jari tampak jua panglima perang depati tujuh beduk ditabuh. negeri kemantan tak jauh. sungai tutung kaki kecil tawanan anggun cindai nan gurawan melintasi koto keras terus keatas,bentang tali ambil rambut panjang jalin menjalin tanah rawang. terkurung kau disana dalam langkah takdiir awal akhir lahir dan batin. jangan kau permainkan, entah suara dari mana. o tanah sekudung tempat bidadari mandikan cahaya purnama. lihat tetangga sembah segala sembah ada disana, rentang tali ke tanah tamiang surau syech magrib tertimbun kabut abadi? bukalah kunci naik dari talang kemuning bertemu sebatang kayu tumbuh di batu semua rusa jinak kita punya. tiba-tiba letusan senapan kawat baja badak bercula badak sumatera berhamburan masuk kota. ketika lebaran mau tiba aku perlu bambu untuk sekedar buluh perindu sarang elang cari disana. piutku bilang :jangan melintas di arena perkelahian tang ceng bok dengan cindur mato, nanti kau kesurupan tiba yang segala ada cukup sebilah keris kau suka. inilah tambo tak jadi jangan kau baca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar